RINDU

Aku lupa menghitung, sudah berapa kali rindu mengganggu ketenanganku dan ketenanganmu. 

Sudah berbagai cara kudamaikan ia dengan waktu. Tapi, tetap saja ia enggan menyatu.
Kepadamu Tuan, rinduku terus berjatuhan. Matamu yang teduh, senyummu yang surgawi, tak pernah kuingkari.

Semoga disana kau tetap menjaga hati, seperti aku disini yang begitu menjagamu dengan sangat berhati-hati.

Sebentar, bolehkah aku sedikit mengeluh kepadamu? 
Ah, andai saat ini juga kau bisa temani aku, duduk di sampingku, lalu mendengarkan seluruh celotehku. Aku ingin bercerita banyak hal, apapun.
Tapi, jarak masih menjadi sesuatu yang belum sanggup kita taklukkan.

Maafkan aku yang sering kali mengutuk jarak diantara kita. Tenang saja, untukmu aku selalu bersetia.

Kau pasti tahu, rinduku atasmu tak pernah mengenal malu. Setiap hari ia selalu mengganggumu. Maafkan aku, maafkan, karena aku telah gagal merawat rindu.
Padahal akupun tahu, dibanyaknya waktu sibukmu, kau pasti selalu mendoakan segala hal demi kebaikanku, termasuk urusan rindu.

Dimanapun saat ini keberadaanmu, berjanjilah untuk selalu menjaga diri dan hati dengan hati-hati. Tidaklah perlu berjanji kepadaku, anggaplah itu janjimu pada dirimu sendiri.

Semoga, sibukku dan sibukmu hari ini dihitung oleh Tuhan sebagai sibuk yang memperjuangkan masa depan. Kiranya kau lelah, percayalah, tidak sekalipun Tuhan menginginkan kita untuk menyerah
TAK LAMA LAGI, SEMOGA SECEPATNYA SEMESTA BERPIHAK PADA KITA

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Telah kuikhlaskan perpisahan